Kamis, 26 September 2024

Seri Cerpen : Hikmah dari Dinding

 Seri Cerpen : Hikmah dari Dinding

Hari ini aku pulang terlambat lagi. Ruangan kantorku masih lengang, hanya ditemani suara derit kursi dan detak jam dinding yang terasa semakin menyesakkan dada. Tumpukan laporan belum tersentuh, tanggung jawab rasanya semakin berat menindih pundakku. Aku lelah.

Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan kepala yang terasa berat. Namun, pikiran masih berkecamuk. Tugas-tugas kantor, target yang belum tercapai, hingga rasa kecewa pada diriku sendiri karena merasa belum cukup baik. Semuanya berputar tak henti-henti. Aku bagaikan roda yang terus berputar tanpa henti, tetapi tak pernah benar-benar sampai ke tujuan.

Aku membuka mata perlahan dan menatap ke dinding kantor yang kosong, berusaha mencari pelarian sesaat dari pikiran-pikiran yang menggangguku. Tiba-tiba, mataku menangkap pemandangan yang tak biasa—seekor semut kecil sedang berjalan di dinding, diikuti oleh barisan semut lainnya, berjajar rapi dalam satu garis. Mereka berjalan dengan ritme yang konsisten, tidak tergesa-gesa, namun tampak begitu terarah.

Entah kenapa, pemandangan sederhana itu membuatku terdiam. Aku tertegun, lalu mendekatkan diri ke dinding, mengamati semut-semut itu lebih dekat. Aku membayangkan percakapan mereka, saling menyemangati, mungkin mirip dengan apa yang ada di pikiranku.

“Ayo, kita harus terus bekerja! Masih banyak yang harus kita kumpulkan!” ucap seekor semut di barisan depan.

“Kita sudah mengumpulkan cukup banyak hari ini, tapi kita belum selesai. Jangan menyerah!” sahut yang lainnya dengan semangat.

“Tenang saja, kawan. Langkah kecil ini berarti. Kita lakukan apa yang kita bisa hari ini, dan besok kita akan lebih kuat lagi,” ujar semut yang lain sambil terus berjalan.

Aku tersenyum tipis. Semut-semut itu bekerja keras, dengan tubuh kecilnya, mereka tetap gigih mengumpulkan makanan, satu per satu, tak peduli berapa lama waktu yang mereka butuhkan. Mereka tidak mengeluh, tidak merasa terbebani, hanya melakukan yang terbaik dalam setiap langkahnya. Setiap butir makanan yang mereka bawa adalah bagian dari perjuangan panjang, dan mereka tampaknya tahu bahwa setiap langkah itu berarti.

Perlahan, hatiku yang semula dipenuhi rasa penat dan keraguan mulai mereda. Aku merasakan kedamaian yang muncul begitu saja. Mungkin, sama seperti semut-semut itu, aku hanya perlu melangkah satu per satu. Tak perlu terburu-buru, tak perlu merasa kalah hanya karena belum sampai. Setiap hari adalah proses, dan aku hanya perlu melakukan yang terbaik.

Aku menghela napas panjang, mengucapkan terima kasih dalam hati kepada semut-semut itu. Terkadang, pelajaran hidup datang dari hal-hal kecil yang tak pernah kita duga. Aku merapikan barang-barangku, mematikan komputer, dan bersiap pulang. Besok, aku akan mencoba melangkah lagi. Satu demi satu, seperti mereka.

Credit  AI.syah

Rabu, 25 September 2024

Seri Cerpen "Senandung Malam untuk Nona" karya Aisyah

"Senandung Malam untuk Nona"

Langit malam itu kelam, tidak berbintang, seolah menyatu dengan perasaan yang ia bawa. Fira, seorang wanita muda berusia 27 tahun, duduk di sofa kecil di sudut ruang tamu apartemen mungilnya. Tangannya mengelus lembut kepala Kiko, kucing peliharaan yang sudah menemaninya selama tiga tahun terakhir. Matanya sayu, napasnya berat. Hari-hari panjang bekerja di kantor yang terasa tak ada habisnya, tuntutan dari atasan yang seolah tak peduli, dan tekanan yang ia bawa setiap pulang ke rumah, semuanya mulai menghancurkan sisa-sisa harapannya.

Kiko menggeliat, mencoba lebih mendekat. Matanya yang bulat dan penuh kasih selalu berhasil memberi sedikit pelipur di tengah lelahnya Fira, tapi malam ini, bahkan sentuhan lembut Kiko tidak cukup. Kesepian yang menyelimuti Fira semakin pekat, seolah semua warna dalam hidupnya telah pudar, tersisa abu-abu yang dingin.

Tangannya berhenti mengelus. Fira memandang kosong ke jendela, sementara pikirannya tenggelam dalam lamunan yang tak berujung. Ada titik hening yang menyeruak di antara suara lalu lintas di luar sana, seolah semua suara dunia terhenti sejenak.

"Maaf, Kiko," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Kiko mendongak, mengeluarkan suara kecil, seolah tahu ada sesuatu yang salah, tapi ia tak bisa bicara. Tak bisa bertanya apa yang terjadi pada majikannya malam ini. Fira perlahan berdiri, menuju dapur, tempat secarik surat ia letakkan di atas meja, lalu mengambil sesuatu dari dalam laci. Kiko mengikutinya dari belakang, menggesekkan tubuhnya ke kaki Fira, berusaha menarik perhatian, tapi Fira tak lagi membalas.

Waktu terasa berjalan lambat. Fira tahu apa yang ia lakukan, dan kali ini, tidak ada yang bisa menahannya. Tidak pekerjaan, tidak teman-teman yang jarang ia temui, bahkan tidak Kiko. Segalanya telah hancur dalam dirinya. Ia hanya ingin semua rasa sakit itu hilang, selamanya.

Beberapa saat kemudian, Fira terjatuh di lantai ruang tamu. Kiko yang mulai panik mengelilinginya, menjilat tangan Fira, mencoba membangunkannya. Tapi tubuh majikannya tak lagi bergerak. Mata Fira terpejam dalam keheningan yang mencekam.

Kiko mengeong, tangis kucing yang lirih, namun tak ada yang mendengar. Lalu, perlahan Kiko berjalan menuju pintu yang sedikit terbuka. Ia merasa tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, tapi ada kesedihan yang dalam menyelimuti hatinya yang kecil. Kiko keluar rumah, berjalan di trotoar malam yang sepi.

Langkah-langkah kecilnya yang ragu membawanya menuju jalan raya, tempat deru mobil dan lampu-lampu kota berkilauan. Kiko, yang biasa dilindungi oleh Fira dari bahaya luar, kini sendirian. Saat ia mencoba menyeberang jalan, sebuah mobil melaju kencang, dan dalam sekejap, tubuh mungil Kiko terpental, terkapar di tepi jalan.

Dalam detik-detik terakhirnya, sekilas ingatan memenuhi kepala Kiko. Momen-momen ia dan Fira bersama, saat-saat ketika ia berbaring di pangkuan Fira, ketika tawa kecil Fira pecah di tengah kebosanan hari-hari panjang. Namun malam itu, Kiko sadar ia tak berhasil memberikan kebahagiaan terakhir yang dibutuhkan Fira. Ia gagal menjaga pemiliknya, gagal menghiburnya di saat-saat terburuknya.

Sesaat sebelum segalanya menjadi gelap, Kiko merasa... hampa.

Minggu, 15 Oktober 2017

Mahasiswa Jangan Mager

Hai hai readers....

Sudah lama nih aku tidak meng-post tulisan lagi. Kini aku kembali lagi nih karena sudah sekian lama mager (*hehehe jangan ditiru yaa). Oh iya sesuai dengan latar belakangnya nih aku mau bawakan tulisan yang berjudul "Mahasiswa Jangan Mager"

 Jadi begini nih, kalian pasti sudah tau kan arti dari istilah mager (Malas Gerak). Istilah mager itu berujuk pada kata malas yang berkonotasi sangat negatif terutama untuk kalangan mahasiswa. Sebenarnya mager bukan hanya tidak boleh untuk kalangan mahasiswa tapi menurutku untuk semua kalangan (wkwkwk).

Yah... sekali-kali boleh lah mager tapi jangan keseringan dan berlebihan karena memang Allah tidak menyukai hal yang berlebih-lebihan seperti dalam firmannya dalam surat Al-Araf ayat 31

"Hai anak Adam, Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki ) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (Q.S Al-A'raaf [7]:31)

Disini aku bukan akan membahas tentang pakaian, minum dan makan yang berlebihan karena sesuai temanya aku akan membahas tentang jangan mager nya karena aku garis bawahi "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan"  baik dalam hal apapun gak boleh berlebih-lebihan yah kecuali Ilmu karena harus dapat ilmu itu yang banyak agar tidak keliru. 

Baiklah kembali ketema, istilah mager itu sangatlah kurang baik dilakukan terutama untuk mahasiswa karena pada dasarnya mahasiswa dituntut untuk kreatif dan produktif. Apalagi tau sendiri kan mahasiswa itu sebenarnya pembawa perubahan dan generasi terdidik. Dia harus mampu mengemban amanah dari rakyat. Mahasiswa harus bertanggung jawab, jangan hanya sekedar mendapatkan nama "ekh aku lho mahasiswa dari XXX" jadi kalau seperti itu kamu hanya pamer agar dipuji dan disegani orang. 

Mahasiswa tugas dan PR nya banyak bukan hanya diperkuliahan tetapi, bagaimana dituntut untuk menjalankan pengabdiannya kepada masyarakat. Kalau mahasiswanya mager bagaimana mau sukses bergerak saja sudah malas. Sukses itu bukan berarti harus dapat uang yang banyak tapi, bagaimana kamu sudah mampu menjalankan tugasmu sebagai mahasiswa untuk masyarakat itulah orang sukses bukan hanya untuk pribadi  

Makanya mahasiswa harus mencari ilmu yang banyak agar ketika ada masyararakat yang membutuhkan bantuannya ia dapat menyelesaikan suatu permasalahan. Perbanyaklah baca  karena dengan membaca  akan memunculkan banyak ide. 

Aku terkadang heran kenapa banyak mahasiswa yang mager dan malah nongkrong-nongkrong tidak jelas. kalaupun nongkrongnya untuk pembelajaran itu tidak apa-apa bahkan itu baik. tapi kalau nongkrongnya itu sambil ngerokok dan diam ngelamun gak jelas itulah yang buang-buang waktu. selain itu, mahasiswa mager biasanya banyak tidur, seperti orang sakit. gak mau kan dibilang seperti itu makanya ayo belajar, ayo berkarya dan ayo bergerak....


Jumat, 15 September 2017

Sindrom Maba (Mahasiswa baru)

Yaelah bahasanya Sindrom Maba (Mahasiswa Baru) apaan tuh??

Aku jawab apa ya...
Sebenarnya begini, mungkin sebagian ada yang merasakan sindrom seperti ini sepertinya memang sindrom maba tidak terkesan baik. Namun, perlu disikapi dengan benar. Sebab aku merasakan saat saat seperti ini. Saat pertama kali aku diterima di PTN yaitu Universitas Indonesia, Aku sangat senang bukan main. Yes.. aku diterima jadi maba FIB. Alasan aku dulu simpel, yang penting aku ingin kuliah di PTN.

Ternyata hidup di luar kota dengan pergaulan yang cukup waww serta memerlukan biaya yang tak sedikit, walaupun aku penerima beasiswa bukan berarti biaya hidup ditanggung sepenuhnya. Aku harus melatih diriku untuk menjadi gaul. kapan nih cerita sindrom maba nya?

Wait wait, jadi menurut teori sotoy (sok tahu) aku, sindrom maba adalah sindrom yang dirasakan oleh mahasiswa baru (yaiyalah mahasiswa baru). Di kampus khususnya di Universitas Indonesia begitu banyak organisasi, komunitas dan acara-acara kepanitian yang sedang membuka Open Recruitment  yang dilakukan secara berbarengan. Mahasiswa Baru kebingungan untuk memilih mana yang akan diikuti, termasuk aku sendiri. Sehingga mahasiswa kebingungan sendiri hingga ada yang mengikuti kegiatan yang banyak atau ada juga yang tidak mengikuti kegiatan tersebut sama sekali.

Kelebihannya jika kita mengikuti kegiatan banyak dibanding dengan yang tidak mengikuti yaitu pertama kamu akan mendapat banyak link dan teman baru sesama anggota organisasi ataupun komunitas itu sendiri dibanding dengan maba yang tidak mengikuti kegiatan apapun. Kedua, kamu akan sebisa mungkin mengatur waktumu dan menjadikan waktumu tidak kosong jadi gak gabut (nganggur) serta menuntut kamu untuk pandai mengatur waktu. Ketiga, kamu akan terbiasa kedepannya mengikuti kegiatan di suatu organisasi/komunitas/acara kepanitiaan lain.

Sedangkan kekurangannya yaitu karena mahasiswa baru sangat banyak kegiatan, baik itu ospek universitas, fakutas, dan jurusan, sehingga kamu merasa kelelahan. Kamu belum terbiasa kedepannya jika akan mengikuti kegiatan.

Tipsnya menurut aku yaitu
1. Carilah informasi sedetail mungkin tentang organisasi atau komunitas baik itu dari senior, teman bahkan dari anggota yang mengikuti organisasi/komunitas tersebut.
2. Ikuti organisasi/komunitas/acara kepanitiaan yang sesuai dengan minatmu. jangan mengikuti terlalu banyak karena tugas utama kita sedang kuliah, jadi harus kejar juga tujuan utama kuliah. Jadi jangan sampai tugas kuliah terlewatkan apalagi penerima beasiswa.
3. Tentukan prioritasmu, mana yang lebih penting.
4. Membuat daftar/rencana kegiatan agar tidak bentrok.
5. Membuat daftar kemungkinan biaya yang akan dikeluarkan sehingga kamu tidak keteteran dalam hal tersebut. karena banyak mahasiswa baru biasanya di awal ngampus akan banyak pengeluaran baik untuk buku, baju baru dan peralatan belajar lainnya.

Yap. mungkin hanya itu saja. Ini adalah pertama kalinya aku nulis di sebuah blog. Sebenarnya aku belum pandai menulis hanya dalam masih tahap pembelajaran. Semoga kedepannya menjadi lebih baik dalam membuat tulisan. Semoga tulisan di atas bermanfaat.

Selamat Bermimpi..

Belajar Itu Ada Metodenya: Rabbani, Bertahap, dan Mengokohkan

Hai Readers.  Dalam salah satu kajian yang aku dengarkan di perjalanan, aku kembali diingatkan bahwa belajar itu tidak bisa sembarangan. Ada...