"Senandung Malam untuk Nona"
Langit malam itu kelam, tidak berbintang, seolah menyatu dengan perasaan yang ia bawa. Fira, seorang wanita muda berusia 27 tahun, duduk di sofa kecil di sudut ruang tamu apartemen mungilnya. Tangannya mengelus lembut kepala Kiko, kucing peliharaan yang sudah menemaninya selama tiga tahun terakhir. Matanya sayu, napasnya berat. Hari-hari panjang bekerja di kantor yang terasa tak ada habisnya, tuntutan dari atasan yang seolah tak peduli, dan tekanan yang ia bawa setiap pulang ke rumah, semuanya mulai menghancurkan sisa-sisa harapannya.
Kiko menggeliat, mencoba lebih mendekat. Matanya yang bulat dan penuh kasih selalu berhasil memberi sedikit pelipur di tengah lelahnya Fira, tapi malam ini, bahkan sentuhan lembut Kiko tidak cukup. Kesepian yang menyelimuti Fira semakin pekat, seolah semua warna dalam hidupnya telah pudar, tersisa abu-abu yang dingin.
Tangannya berhenti mengelus. Fira memandang kosong ke jendela, sementara pikirannya tenggelam dalam lamunan yang tak berujung. Ada titik hening yang menyeruak di antara suara lalu lintas di luar sana, seolah semua suara dunia terhenti sejenak.
"Maaf, Kiko," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Kiko mendongak, mengeluarkan suara kecil, seolah tahu ada sesuatu yang salah, tapi ia tak bisa bicara. Tak bisa bertanya apa yang terjadi pada majikannya malam ini. Fira perlahan berdiri, menuju dapur, tempat secarik surat ia letakkan di atas meja, lalu mengambil sesuatu dari dalam laci. Kiko mengikutinya dari belakang, menggesekkan tubuhnya ke kaki Fira, berusaha menarik perhatian, tapi Fira tak lagi membalas.
Waktu terasa berjalan lambat. Fira tahu apa yang ia lakukan, dan kali ini, tidak ada yang bisa menahannya. Tidak pekerjaan, tidak teman-teman yang jarang ia temui, bahkan tidak Kiko. Segalanya telah hancur dalam dirinya. Ia hanya ingin semua rasa sakit itu hilang, selamanya.
Beberapa saat kemudian, Fira terjatuh di lantai ruang tamu. Kiko yang mulai panik mengelilinginya, menjilat tangan Fira, mencoba membangunkannya. Tapi tubuh majikannya tak lagi bergerak. Mata Fira terpejam dalam keheningan yang mencekam.
Kiko mengeong, tangis kucing yang lirih, namun tak ada yang mendengar. Lalu, perlahan Kiko berjalan menuju pintu yang sedikit terbuka. Ia merasa tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, tapi ada kesedihan yang dalam menyelimuti hatinya yang kecil. Kiko keluar rumah, berjalan di trotoar malam yang sepi.
Langkah-langkah kecilnya yang ragu membawanya menuju jalan raya, tempat deru mobil dan lampu-lampu kota berkilauan. Kiko, yang biasa dilindungi oleh Fira dari bahaya luar, kini sendirian. Saat ia mencoba menyeberang jalan, sebuah mobil melaju kencang, dan dalam sekejap, tubuh mungil Kiko terpental, terkapar di tepi jalan.
Dalam detik-detik terakhirnya, sekilas ingatan memenuhi kepala Kiko. Momen-momen ia dan Fira bersama, saat-saat ketika ia berbaring di pangkuan Fira, ketika tawa kecil Fira pecah di tengah kebosanan hari-hari panjang. Namun malam itu, Kiko sadar ia tak berhasil memberikan kebahagiaan terakhir yang dibutuhkan Fira. Ia gagal menjaga pemiliknya, gagal menghiburnya di saat-saat terburuknya.
Sesaat sebelum segalanya menjadi gelap, Kiko merasa... hampa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar